Self-Determination: Kenali dan Tumbuhkan Determinasi Pada Diri

Reading time : 3 minutes

Waktu baca : 3 menit


Apakah kamu pernah memperhatikan, seberapa sering kamu merasa termotivasi? Bagaimanakah motivasimu? Apakah kamu termasuk orang yang dapat mempertahankan motivasi yang stabil, ataukah kamu masih mengalami masa naik-turun?

Sebenarnya apa penyebab mood yang datang dan pergi ini? Mengapa ada orang yang kelihatannya selalu punya motivasi cadangan di otak mereka dan ada orang yang motivasinya antara ada dan tiada? Hal-hal ini dijelaskan dalam Self-Determination Theories (SDT) atau teori ketetapan diri.

Berkenalan dengan Self-Determination Theories

Teori ini dicetuskan oleh Richard Ryan dan Edward Deci, para psikolog dari Universitas Rochester, dalam jurnal American Psychologist. SDT beroperasi dengan asumsi bahwa:

  1. Kebutuhan akan perkembangan akan mendorong terjadinya aksi.
  2. Motivasi intrinsik sangat berperan di dalamnya.

Ryan dan Deci juga mengidentifikasi tiga kebutuhan psikologis universal yang dibutuhkan untuk memotivasi diri dengan cara yang positif, yakni kompetensi, hubungan, dan otonomi.

Mengapa penerapan teori ini dibutuhkan? Keuntungan terbesar yang didapat dari menerapkan teori ini adalah kesadaran (self awareness).

Seseorang yang determinasi dirinya tinggi mengenal dirinya dengan baik. Saat dihadapkan kepada masalah, dia bisa mengetahui apa saja yang harus dilakukan untuk menyelesaikannya, dan juga tahu bahwa ia melakukan kesalahan serta siap untuk memperbaiki diri. Seseorang yang tidak memiliki ketetapan diri tinggi, di sisi lain, akan cenderung lebih cepat menyerah dan pasrah. Dia akan langsung menganggap sudah tak bisa apa-apa lagi. Bukannya bercermin dan memperbaiki diri, ia memilih untuk menyalahkan faktor dan hal-hal lain.

 

Kompetensi

Kebutuhan akan kompetensi adalah keinginan alamiah yang kita rasakan untuk berhasil dalam apapun yang kita lakukan. Pastinya, walaupun diberi tahu betapa pentingnya mengalami kegagalan, tidak ada yang sungguh-sungguh merasa senang ketika mengalaminya. Yang ada, kamu akan semakin ingin berhasil di kali berikutnya. Inilah kebutuhan akan kompetensi.

Untuk memenuhi kebutuhan ini, kamu harus mulai mempelajari dirimu sendiri. Apa saja kelebihan dan kelemahanmu? Apakah ada bidang ilmu yang masih harus kamu perdalam? Kamu bisa menggunakan Personal SWOT Analysis untuk mengetahui ini.

Berikutnya, kamu juga harus tahu apa visi dan misimu kedepannya. Apa yang ingin kamu capai dalam lima, sepuluh tahun mendatang? Apa yang harus kamu pelajari atau lakukan agar kamu bisa mencapainya? Susunlah rencana masa depanmu dengan baik dan lakukanlah yang perlu kamu lakukan untuk meraihnya.

Kamu punya target pribadi yang ingin diraih? Simak langkah-langkahnya dalam materi Kelas Mikro Plus: Personal Goal Setting di Playbook.

 

Hubungan

Bagi kalian yang introvert, memiliki pekerjaan di mana kamu tidak perlu bertemu orang mungkin terdengar sangat menyenangkan. Namun, pada kenyataanya, sebagai makhluk sosial, manusia membutuhkan interaksi dan hubungan dengan sesamanya, walaupun kadarnya berbeda-beda. Manusia butuh merasa dibutuhkan, butuh menerima dan memberi kasih sayang. Karena inilah sangat penting untuk membangun hubungan baik di lingkungan kerja sangat penting.

Jika kamu merasa hubunganmu dengan rekan kerjamu masih perlu dikembangkan, cobalah untuk mengeluarkan lebih banyak usaha untuk berkomunikasi. Mungkin kamu bisa berbincang dengan mereka ketika sedang istirahat. Mungkin kamu bisa mengajak mereka makan siang bersama. Kamu juga bisa bertukar ide selama bekerja dan mungkin saling membantu ketika menghadapi beban kerja yang berat. Semakin banyak kamu membantu mereka, semakin banyak pula mereka akan membantumu. Memperkuat kecerdasan emosionalmu (emotional intelligence) juga akan membantumu bersosialisasi lebih lanjut.

Membangun hubungan akan menjadi sangat bermanfaat. Tak hanya untuk kesehatan emosional dan kebahagiaanmu, tetapi juga untuk kariermu. Dengan membangun networking yang baik, kamu akan mendapatkan koneksi yang kamu butuhkan di dunia kerja.

Baca juga: Tips Sukses Peluas Jaringan Lewat Networking.

 

Otonomi

Otonomi adalah kuasa dan kebebasanmu atas hasil kerjamu. Ketika kamu memiliki otonomi, kamu punya kebebasan untuk menentukan pilihanmu, misalnya kapan suatu proyek perlu diselesaikan, atau bahkan siapa saja yang kamu inginkan dalam timmu. Memiliki kontrol terhadap hasil kerjamu adalah faktor yang membuat pekerjaanmu memuaskan dan memotivasi.

Lalu bagaimana agar kamu mendapatkan otonomi? Kamu bisa memintanya kepada atasanmu. Mulailah mengajukan ide atau proyek kepada atasanmu ketika kamu merasa cukup percaya diri untuk memimpinnya. Cobalah untuk berbicara dengan terbuka kepada atasanmu mengenai bagaimana kamu dapat melibatkan lebih banyak pengambilan keputusan dan apa manfaatnya bila kamu diserahi tanggung jawab tersebut.

Perlu diingat bahwa perkembangan menuju determinasi diri yang mantap memerlukan waktu dan proses. Kamu tak akan sekonyong-konyong menjadi pribadi yang cukup dewasa secara psikologis untuk menerapkan teori ini hanya dengan membaca materi saja. Berikut adalah tips-tips yang mungkin akan membantumu:

  • Jangan berusaha memotivasi diri dengan insentif eksternal. SDT adalah teori yang mendorong munculnya motivasi internal. Deci berpendapat bahwa memberikan reward eksternal dapat mengikis otonomi, sebab perilaku akan semakin dikendalikan oleh upah yang diberikan dan dapat mengurangi motivasi internal.
  • Mintalah kritik dan saran positif dari orang-orang di sekelilingmu. Kamu akan mampu melihat apa saja kekurangan yang bisa kamu perbaiki dan apa saja yang sudah kamu lakukan dengan baik. Menerima pujian dapat mendorong terbentuknya motivasi intrinsik.

Baca juga: 7 Tips buat Bangun Rasa Percaya Diri

Tags

Share

Related Articles

Employability, Skill Masa Depan

Reading time : 5 minutes

Penulisan Efektif, Skill Masa Depan

Reading time : 2 minutes

Persuasiveness, Skill Masa Depan, Teamwork
Tapi, apakah setiap negosiasimu selalu sukses? Jika tidak, kamu tidak sendiri. Banyak orang menghadapi tantangan dalam melakukan negosiasi, terutama jika tidak terbiasa atau merasa kurang

Reading time : 5 minutes